Warning: array_merge() [function.array-merge]: Argument #2 is not an array in /home/agusza/public_html/nikki/wp-includes/widgets.php on line 53
« Sopir baikan Agus Zainal Arifin
Thursday, December 4th, 2008

Sopir baikan

Dalam perjalanan KRL maupun pesawat terbang di Jepang saya memiliki pengalaman yang agak sedikit berbeda, yakni terkait dengan kebiasaan sopir alias masinis atau pilot. Di setiap KRL biasanya masinis memberi tahu bahwa kita akan sampai di stasiun apa saja (terutama stasiun besar) lengkap dengan jam kedatangannya. Hal ini bisa memberi kita kemudahan memperkirakan jadwal untuk kebutuhan lainnya. Ada juga keterangan tambahan yakni setelah sampai pada stasiun yang berikutnya ini nanti Anda akan dapat melanjutkan perjalanan dengan KRL apa saja dan dari line (lintasan / jalur) apa. Ini juga sangat memudahkan, sebab dengan teraturnya perjalanan dengan KA ini, maka penggunaan kendaraan pribadi di jalanan dapat diminimalkan. Ini berarti tujuan yang cukup rumitpun akan dapat dijangkau dengan KA atau kendaraan lainnya secara estafet.Ada yang cukup mengagetkan, yakni baiknya pak pilot pesawat JAL yang berkenan memberi tahu bahwa bila kita menengok ke kanan pesawat, maka akan menjumpai kota Kyoto, Okayama, dan lain-lain. Ini saya temui saat berada di pesawat JAL antara Tokyo dan Hiroshima. Adapun saat pulangnya, yakni pesawat JAL dari Osaka ke Tokyo, pak pilot bahkan memberi tahu bahwa di sebelah kiri pesawat dapat dilihat Gunung Fuji yang terkenal itu. Itulah pertama kalinya saya bertemu dan yakin bahwa itulah gunung Fuji yang selama ini saya lihat di gambar-gambar saja.

fuji.JPG

Nampak bentuknya yang sangat khas, yakni segitiga lancip mirip gunung semeru, yang bertengger sendirian tanpa ada gunung lain yang menemaninya sehingga nampak keperkasaannya. Separuh bagian atas nampak berwarna putih cemerlang salju yang selalu setia menyelimutinya, sedangkan bagian bawah berwarna biru. Warga Jepangpun yang belum pernah melihat Fuji nampaknya juga terpesona, sebab beberapa diantaranya sampai harus pergi ke jendela sebelah kiri untuk sekedar melihat langsung tanpa halangan. Maklum pesawat JAL rata-rata terdiri dari 3 lajur dengan 3 kursi pada setiap lajurnya, sehingga yang duduk tidak tepat di jendela kiri tadi, harus berjalan mencari jendela yang tidak terhalang orang.

Nampaknya berita yang selama ini disampaikan para pilot perlu sedikit diupdate, jangan hanya berita awan atau mendung yang bikin orang takut saja yang disampaikan, namun juga berita gembira yang menakjubkan. Ini tentu akan meningkatkan gairah pariwisata di tanah air. Misalnya bila kebetulan jalur resminya adalah melalui Gunung Semeru, Jembatan Suramadu, Candi Borobudur, dan lain-lain, hendaknya pilot memberi tahu para penumpangnya, sehingga sekalian berwisata.

Ternyata di Jepang tidak hanya pilot dan masinis yang aktif memberi informasi kepada penumpangnya, bahkan di dalam buspun tak henti-hentinya berbagai “pengumuman” disampaikan. Hanya saja barangkali untuk menghemat tenaga sopir bus, mereka biasa menggunakan rekaman kaset. Diantara pemberitahuannya adalah nama halte yang berikutnya akan disinggahi, misalnya “mamonaku hirodai nishi guchi de gozaimasu”, “sebentar lagi kampus Hirodai (Hiroshima Daigaku) pintu Barat”. Pengumuman lainnya adalah dimungkinkannya membeli voucher tiket bus langsung kepada sopir atau ada sesuatu yang menarik di sana, misalnya jidosha gakkou (kursus mengemudi mobil). Bila bus jarak jauh biasanya pengumumannya lebih panjang lagi, misalnya jam berapa akan sampai di kota yang akan dituju atau terminal yang akan disinggahi, tersedianya toilet di dalam bus, dan anjuran memasang seat bealt (sabuk pengaman).

Mengenai tenaga kerja, bus jarak jauh walaupun sangat jauh tetap saja hanya terdiri dari satu awak bus, yakni sopir, tanpa kernet, dan tanpa kondektur. Satu sopir itu saja cukup untuk mengabsen penumpang (bila jarak jauh), membantu mengangkat koper (bila ke bagasi bus), memberi tahukan pengumuman ini itu, dan lain-lain. Di tempat kita, bus biasanya dikerneti 2 orang bahkan masih ada satu kondektur yang menagih penumpang. Tentu saja bila bayaran 3 atau 4 orang tersebut dapat dirangkap oleh satu orang, maka akan berakibat penghasilan pak sopir berkecukupan.

Ada satu lagi yang asik, yakni tepatnya jadwal. Seorang sopir tidak mungkin main kebut-kebutan, sebab bukan hanya tidak baik, namun jadwal kedatangan bus tersebut di tiap halte telah ditentukan. Sehingga bila seorang sopir bus mengemudi terlalu cepat, maka ia akan sampai di suatu halte terlalu awal. Bisa jadi di sana belum ada orang yang menunggu, sebab di halte tersebut terdapat tabel waktu kedatangan bus yang sudah diketahui para penumpang. Sehingga orang bisa saja datang ke halte hampir bersamaan dengan datangnya bus atau berbeda beberapa menit saja. Jadi bila bus terlalu cepat sampai ke suatu halte, maka ia akan menunggu hingga jam seharusnya ia sampai di sana. Ini tentu tidak efisien, karena itulah yang paling baik adalah mengemudi dengan kecepatan standard, tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat.

Category: Uncategorized

Fatal error: Call to undefined function post_password_required() in /home/agusza/public_html/nikki/wp-content/themes/avelius/comments.php on line 9