Warning: array_merge() [function.array-merge]: Argument #2 is not an array in /home/agusza/public_html/nikki/wp-includes/widgets.php on line 53
« Religius dan wisata Agus Zainal Arifin
Sunday, November 30th, 2008

Religius dan wisata

Dalam kunjungan ke kota Nara, Alhamdulillah berkesempatan juga jalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Ternyata obyek wisata unggulan di sana adalah tempat-tempat ibadah Budha (Otera) dan Shinto (Jinja) yang berumur ratusan bahkan lebih dari 1000 tahun. Ini menunjukkan betapa religiusnya orang Jepang kuno. Mengapa kuno ? ya, sekarang memang ada pergeseran dalam hal keyakinan.

Anak-anak muda Jepang, hampir semua yang saya pernah kenal tidak ada yang memiliki agama tertentu. Sebagian lagi masih mempercayai kami sama (Dewa), tapi sekedar percaya saja dan tidak ada konsekwensi ibadah apapun. Bahkan aktifitas yang menunjukkan religiusitas nampaknya sekedar tradisi tanpa makna. Misal ketika lahir hampir semua bayi akan dibawa ke jinja diupacari secara shinto. Ketika menikah mereka ke gereja. Inipun bukan karena Kristen namun karena trend belaka, termasuk pemakain kalung salib dan ramai-ramai diskon christmas di toko-toko. Dan ketika meninggal mereka diperabukan secara Budha. Jadi agama bagi mereka bisa dibuat satu, dua, tiga, atau malah tidak usah.

Kalau dilihat dari sisi akhlak, sepertinya semua ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang terkait hablum minannas sudah dilakoni hampir seluruhnya. Betapa kejujurannya, tepat waktunya, keseriusannya, menunaikan kewajiban individu, memenuhi hak orang lain, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, tidak mau mengambil yang bukan haknya walaupun kesempatan sangat terbuka lebar, menjaga kebersihan, dan seterusnya. Ini justru contoh bagi yang sudah hafal hadits “an nadhafatu minal iman”, kebersihan itu adalah bagian dari iman, namun kesehariannya jorok, membuang sampah dari dalam mobil, bungkus makanannya main lempar saja, bahkan puntung rokoknya dijatuhkan di mana-mana. Ini sebagai refleksi, bahwa mereka tidak mengenal hadits tersebut, tapi sejak anak kecilpun sampai orang tua tidak ada yang nekat membuang kotoran di jalanan atau di tempat yang tidak seharusnya.

Kunjungan kali ini ke kuil Todaiji yang memiliki Patung Budha setinggi l.k. 15 meter. Pengunjungnya luar biasa banyak. Dengan tiket masuk 500 yen, nampaknya kuil ini akan bisa membiayai keperluannya tanpa berharap bantuan pemerintah. Apalagi berdasarkan Undang-Undang, pemerintah Jepang tidak boleh mensupport agama apapun, termasuk Budha atau Shinto sekalipun. Komplek kuil ini sangat luas, dipenuhi pepohonan tinggi dan kijang yang berkeliaran dimana-mana yang menanti diberi makan kerupuk kijang oleh pengunjung.

 

Lagi-lagi saya lihat banyak orang yang nampaknya percaya dengan Tuhan, terbukti mereka banyak berdoa di depan patung Budha dengan menelungkupkan tangan. Tapi dari informasi yang saya peroleh, mereka sebenarnya hanya melakukan kebiasaan dan bukan mempercayai keinginannya terkabul oleh doa itu. Saya jadi tidak bisa mengatakan apakah negatif berkurangnya religiusitas ini. Sebab di sisi lain ini kesempatan bagi agama lain untuk masuk mengarahkan mereka mempercayai sifat-sifat ketuhanan, sebab saat ini kepercayaan tersebut sudah tidak ada. Adapun soal makin ramai atau bagusnya kondisi otera ataupun jinja, nampaknya bukan karena religiusnya tapi karena sebagai obyek wisata.

Dalam Todaiji juga ada sebuah tiang yang bawahnya berlubang dimana orang pada mencoba berusaha masuk menerobos. Dikatakan bahwa yang berhasil lewat berarti dia jujur. Mudah-mudahan semua orang yang masuk ke situ bisa keluar, sebab kalau kejepit tentu kasihan sekali.

Image:NaraTodaijiL0219.jpg

Berkenaan dengan pembangunan Todaiji sebesar ini tampaknya bermula dari keinginan kaisar saat itu untuk unjuk kebesaran agar kekuasaannya diakui. Caranya dengan membangun sesuatu yang besar dan wah.

Kaisar dan keluarganya sendiri tidak selalu memeluk Budha atau Shinto, sebab tergantung kepada individunya. Bahkan pernah terjadi saat Shinto berkuasa, kaisarnya sempat merusak kuil Budha, ratusan tahun yang lalu. Inilah sebabnya sebagian mereka agak risih bila pemerintah mengecam ketika ada orang Islam radikal yang mengebom gereja atau kuil, sebab merekapun memiliki sejarah masa silam yang mirip itu. Saya sendiri sering berkata di sini bahwa setiap agama itu bisa memiliki aliran radikal. Tidak hanya Islam atau shinto saja. Kristenpun banyak yang radikal dengan mengejar-ngejar orang Islam, demikian pula Yahudi. Juga Hindu yang mengebom masjid merupakan Hindu radikal. Jadi terorisme saat ini jangan dikoneksikan ke agama Islamnya tapi kepada individunya.

Cuman ujung-ujungnya jadi kerja sama antar agama di sini berubah ke kerja sama ibadah dengan mengikuti beberapa agama sekaligus atau tidak memeluk sama sekali tapi berlaku baik ke semuanya.

Kita perlu banyak mempelajari agama kita, sebab kalau tidak akan menjadi tradisi-tradisi belaka. Sekarang saja sudah mulai banyak yang menganggap tahlil, dzikir, acara keagamaan sebagai tradisi. Padahal Rasulullah SAW memerintahkannya, bahkan kadang dengan motivasi berupa pahal tertentu. Namun karena tidak tahu, maka menganggapnya sebagai tradisi belaka. Akhirnya ketika teroris aqidah datang dengan menuduhnya sebagai syirik atau bid’ah, ummat Islam jadi terpengaruh bahkan banyak yang akhirnya takut sekali ketika akan berdzikir. Lucu juga, mau ingat Allah SWT kok malah takut dikatakan syirik, sebuah fenomena aneh tapi nyata, akibat ketidak-tahuan. Mudah-mudahan kita semua dilindungi oleh Allah SWT dan senantiasa diberi hidayah menuju ke jalanNya yang lurus.

Category: Uncategorized

Fatal error: Call to undefined function post_password_required() in /home/agusza/public_html/nikki/wp-content/themes/avelius/comments.php on line 9